Komentar
Resensi
Ratu Nirmala Sholihatunnisa
Ratu Nirmala Sholihatunnisa
Mengomentari bukanlah hal yang
mudah, tapi bisa dianggap bagus dalam beberapa sisi. Seperti yang akan saya
lakukan. Saya akan mengomentari mengenai Resensi Demokrasi Digital oleh Wasisto
Raharjo Jati (Peneliti di Pusat Penelitian Politik-LIPI). Saya mengomentari
resensi tersebut berdasarkan buku Trik
Menulis: Puisi, Cerpen, Resensi Buku, Opini/Esai (Dadan Suwarna), Buku
Keterampilan Menulis (H. Dalman) dan Buku Komposisi (Prof. Dr. Gorys Keraf).
Pada awal resensi atau biasa kita
sebut pembukaan, terdapat di halaman pertama yang kurang lebih memaparkan
mengenai isi buku secara keseluruhan. Kemudian pada halaman ke dua, penulis
resensi mengemukakan mengenai apa itu demokrasi digital yang mungkin juga
terdapat dalam buku yang diresensi, yaitu Buku Demokrasi di Tangan Netizen :
Tantangan & Prospek Demokrasi Digital. Sayangnya penulis resensi tidak
mengemukakan mengenai latar belakang pengarang buku. Tetapi, penulis resensi
tidak melupakan untuk menulis identitas buku. Walaupun hanya Judul, Penulis,
Penerbit, Cetakan, Tebal, ISBN. Walaupun demikian, penulis resensi telah
memberikan informasi yang cukup untuk identitas buku. Disela-sela penulis
resensi memaparkan mengenai apa itu demokrasi digital, ia juga memberikan
informasi mengenai apa yang dibicarakan dalam buku yang di resensi tersebut
secara garis besar.
Penulis resensi memberikan informasi
perbandingan dengan buku-buku sebelum buku Demokrasi di Tangan Netizen:
Tantangan & Prospek Demokrasi Digital. Buku sebelumnya yang memiliki kurang
lebih ranah yang sama adalah The Internet in Indonesia's New Democracy yang
ditulis oleh David T. Hill & Krishna Sen (2005), kemudian buku yang ditulis
oleh Anwar Abugaza (2013) Social Media Politicia, ataupun buku dari
Rulli Nasrullah (2015) yang berjudul Social Media.
Setelah memberikan perbandingan
dengan buku sebelumnya, barulah penulis resensi mengungkapkan mengenai
kelebihan buku. Karena ada kelibihan pastilah ada kekurangan, penulis resensi
pun menuliskan kekurangan buku di pragraf terakhir dengan gaya bahasa yang
menginformasi. Sayangnya penulis resensi tidak memberikan penutup yang
menunjukkan sasaran dari buku tersebut atau bisa dibilang sasaran dari resensi
itu dibuat. Penulis resensi juga tidak memberikan kesimpulan apa yang dapat
diambil dari seluruh isi resensi yang ia buat. Begitupun dengan nilai buku
(organisasi, isi, bahasa dan teknik) ia tidak memberikan penjelasan mengenai
itu, padahal itu yang membuat pembaca mendapatkan informasi yang leih lengkap
mengenai buku tersebut. Sehingga pembaca dapat menyimpulkan, apakah buku
tersebut ingin pembaca beli atau tidak.
Hallo, Ratu Nirmala! Selamat malam! Saya Devita Yulianti. Saya ingin mengomentari tulisan Anda. Menurut saya Anda sebaiknya menyunting mind map yang sudah Anda buat, karena, pembaca tidak dapat membaca tulisan dalam mind map tersebut. Anda juga harus memperhatikan jenis paragraf yang digunakan agar tulisan lebih terlihat rapi. Sebaiknya paragraf yang digunakan adalah jenis "justify". Untuk penulisan artikel seperti ini, kita harusnya menggunakan kata ganti pasif. Dalam artikel ini banyak sekali kata "saya", alangkah lebih baik jika kata tersebut diganti dengan "penulis". Selain itu, untuk penghematan kata, Anda cukup menulis "peresensi" tidak perlu "penulis resensi".Mala tidak menjelaskan mengenai perbedaan judul resensi dan judul buku, sebaiknya hal tersebut diulasa karena judul amat penting untuk menarik minat pembaca. Banyak terdapat kesalahan penulisan dalam tulisan Anda, sehingga sebaiknya sebelum tulisan tersebut dipublikasikan, Anda harus mengecek ulang. Penilaian terhadap resensi tersebut harusnya sesuai dengan kerangka yang ada di mind map, namun kelihatannya Anda tidak mengikuti alur pada mind map. Di akhir paragraf sebaiknya Anda memberikan kesimpulan terhadap resensi tersebut. Sekian yang dapat saya komentari. Semoga bermanfaat bagi pengembangan tulisan Anda selanjutnya. Terimakasih:)
BalasHapus